Kita tidak akan tahu kemana langkah kaki kita akan
melangkah. Karena seperti yang kita tahu, manusia boleh berencana tapi Tuhan
lah yang akan menentukan semuanya. Seperti sekarang ini, belum pernah aku
merasa sekecil dan setidak mampu ini. Tidak tahu mau ke mana, tidak bisa
berkata jujur pada orang tua, dan tidak tahu akan berbuat apa nantinya. Di usia
nyaris 24 tahun ini, aku masih merasa seperti abg labil yang tidak tahu atau
tidak punya rencana masa depan yang pasti. Semua orang pasti punya mimpi dan
ketika kecil aku punya banyak mimpi yang sekarang aku sesalkan kenapa tidak ‘kupaksakan’
saja mimpiku itu.
Dari kecil aku selalu punya keinginan lebih tentang seni,
entah itu bernyanyi, menari, atau bermain musik. Sempat terpikir untuk
menseriuskan semuanya, namun orang tua selalu punya alasan untuk tidak
mengabulkan. Misalnya, dulu waktu masih duduk di bangku taman kanak-kanak, aku
pernah bilang kepada orang tuaku kalau aku ingin les balet, tapi bapak bilang ‘buat
apa dek, isinya cina semua.’,
sekarang kalau dipikir-pikir orang tuaku cukup rasis masalah ras bangsa juga
ya, tapi ketika saat itu juga aku berpikir, ‘kenapa kalau cina, toh aku juga cina
walau tidak sepenuhnya berdarah cina’.
Hal lainnya ketika aku orang tuaku mengajak aku pindah ketika aku sudah mulai
menyukai tempat tinggalku pada saat itu dan aku meminta dibelikan biola untuk
kompensasi kepindahanku. Tapi apa, aku tetap dipindahkan dan aku tidak
mendapatkan apa-apa hingga saat ini. Alasan bapak pada masa itu, ‘biola mahal
dek satunya aja delapan ratus ribu.’, dan sekarang aku menyesal kenapa tidak
kupaksakan saat itu.
Sekarang lihat aku, berdiri di samping jurang yang bahkan
ujungnya tidak jelas. Aku bisa jatuh sewaktu-waktu kalau ada angin kencang yang
bertiup. Di usia yang hampir 24 tahun ini, aku tetap tidak tahu aku mau jadi
apa. Terlalu menggampangkan hidup, itu yang kurasakan. Dan aku menyesali semua
itu. Di usia yang kata orang sudah bukan anak kecil lagi, aku masih berpikir
seperti anak kecil. Dan sekarang aku berasa menjadi orang yang paling hopeless, jobless, dan mungkin homeless
sebentar lagi. Bahkan hingga saat aku memposting ini pun aku masih berpikir mau
apa aku besok, harus apa aku besok, aku tahu aku tidak seharusnya
kekanak-kanakan seperti ini, tapi… dan berbagai pertanyaan yang aku bingung kan
mau dijawab dengan kata-kata apa.
Banyak rahasia yang tidak bisa aku sharing ke orang lain,
perasaan takut dijudge, dibenci, ditinggalkan, selalu menghantui aku ketika aku
ingin jujur. Mungkin dari semua tulisan di blogku, ini adalah tulisan yang
paling jujur yang pernah aku tulis, dan aku ingin selalu jujur tentang
tulisanku. Bahkan di hadapan orang-orang yang kupanggil keluarga, sahabat aku
masih tidak bisa jujur. Aku selalu menyimpan kehidupan tergelapku dari orang
lain. Aku tidak pernah bilang kalau aku mengidap bipolar disorder, aku tidak
pernah bilang aku sering punya pikiran untuk menghabisi nyawaku sendiri, aku
tidak pernah bilang kalau aku merasa sexual frustration, dan aku juga tidak
pernah bilang kalau uang-uang yang dititipkan ke aku selalu terpakai dan aku
bahkan tidak tahu bagaimana aku menutupi semua uang yang sudah aku ambil.
Sejak kemaren pulang ke rumah, bahkan ketika orang tuaku
menangis, dan menyalahkan diri mereka sendiri ketika aku bilang aku tidak akan
lulus tahun ini, aku ingin berteriak bahwa aku berbohong pada mereka. aku tidak
bisa lulus karena aku tidak pernah masuk kelas karena terlalu sibuk untuk
mengerjakan skripsiku. Itulah mengapa aku harus mengulangnya tahun depan. Aku benci
ketika mama mulai menangis dan menyalakan dirinya sendiri, aku benci melihat
mamaku menangis. Itulah aku memilih untuk kuliah di jogja. Dan lagi-lagi alasan
sebenarnya aku memilih kuliah di jogja pun tidak pernah terucap di hadapan
orang tuaku. Sekarang aku mulai bertanya ‘ada gak sih yang kamu lakukan dengan benar sekali saja? Kok kayaknya salah semua.’.
Ketika orang lain berkata mereka mengenalku dengan baik, aku
meragukan mereka semua, karena bahkan aku tidak tahu tentang diriku sendiri. Aku
tidak pernah tahu mau apa aku hari ini, mau makan apa aku hari ini. Kalau untuk
‘hari ini’ saja aku punya banyak pertanyaan yang tidak bisa kujawab, mana
mungkin pula aku punya jawaban untuk pertanyaan ‘nanti’. Suara di kepalaku
selalu bertengkar sendiri ketika pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan. Kadang aku
tidak bisa mengkontrol mereka untuk berhenti berbicara. Apa aku mulai gila? Apa
aku sesakit itu? Kenapa tidak ada orang yang benar-benar menyelematkanku. I need
somebody to help me. Please.
0 件のコメント:
コメントを投稿