水曜日, 8月 21, 2013

tulisan tengah malam part 1

Kita tidak akan tahu kemana langkah kaki kita akan melangkah. Karena seperti yang kita tahu, manusia boleh berencana tapi Tuhan lah yang akan menentukan semuanya. Seperti sekarang ini, belum pernah aku merasa sekecil dan setidak mampu ini. Tidak tahu mau ke mana, tidak bisa berkata jujur pada orang tua, dan tidak tahu akan berbuat apa nantinya. Di usia nyaris 24 tahun ini, aku masih merasa seperti abg labil yang tidak tahu atau tidak punya rencana masa depan yang pasti. Semua orang pasti punya mimpi dan ketika kecil aku punya banyak mimpi yang sekarang aku sesalkan kenapa tidak ‘kupaksakan’ saja mimpiku itu.
Dari kecil aku selalu punya keinginan lebih tentang seni, entah itu bernyanyi, menari, atau bermain musik. Sempat terpikir untuk menseriuskan semuanya, namun orang tua selalu punya alasan untuk tidak mengabulkan. Misalnya, dulu waktu masih duduk di bangku taman kanak-kanak, aku pernah bilang kepada orang tuaku kalau aku ingin les balet, tapi bapak bilang ‘buat apa dek, isinya cina semua.’, sekarang kalau dipikir-pikir orang tuaku cukup rasis masalah ras bangsa juga ya, tapi ketika saat itu juga aku berpikir, ‘kenapa kalau cina, toh aku juga cina walau tidak sepenuhnya berdarah cina’. Hal lainnya ketika aku orang tuaku mengajak aku pindah ketika aku sudah mulai menyukai tempat tinggalku pada saat itu dan aku meminta dibelikan biola untuk kompensasi kepindahanku. Tapi apa, aku tetap dipindahkan dan aku tidak mendapatkan apa-apa hingga saat ini. Alasan bapak pada masa itu, ‘biola mahal dek satunya aja delapan ratus ribu.’, dan sekarang aku menyesal kenapa tidak kupaksakan saat itu.
Sekarang lihat aku, berdiri di samping jurang yang bahkan ujungnya tidak jelas. Aku bisa jatuh sewaktu-waktu kalau ada angin kencang yang bertiup. Di usia yang hampir 24 tahun ini, aku tetap tidak tahu aku mau jadi apa. Terlalu menggampangkan hidup, itu yang kurasakan. Dan aku menyesali semua itu. Di usia yang kata orang sudah bukan anak kecil lagi, aku masih berpikir seperti anak kecil. Dan sekarang aku berasa menjadi orang yang paling hopeless, jobless, dan mungkin homeless sebentar lagi. Bahkan hingga saat aku memposting ini pun aku masih berpikir mau apa aku besok, harus apa aku besok, aku tahu aku tidak seharusnya kekanak-kanakan seperti ini, tapi… dan berbagai pertanyaan yang aku bingung kan mau dijawab dengan kata-kata apa.
Banyak rahasia yang tidak bisa aku sharing ke orang lain, perasaan takut dijudge, dibenci, ditinggalkan, selalu menghantui aku ketika aku ingin jujur. Mungkin dari semua tulisan di blogku, ini adalah tulisan yang paling jujur yang pernah aku tulis, dan aku ingin selalu jujur tentang tulisanku. Bahkan di hadapan orang-orang yang kupanggil keluarga, sahabat aku masih tidak bisa jujur. Aku selalu menyimpan kehidupan tergelapku dari orang lain. Aku tidak pernah bilang kalau aku mengidap bipolar disorder, aku tidak pernah bilang aku sering punya pikiran untuk menghabisi nyawaku sendiri, aku tidak pernah bilang kalau aku merasa sexual frustration, dan aku juga tidak pernah bilang kalau uang-uang yang dititipkan ke aku selalu terpakai dan aku bahkan tidak tahu bagaimana aku menutupi semua uang yang sudah aku ambil.
Sejak kemaren pulang ke rumah, bahkan ketika orang tuaku menangis, dan menyalahkan diri mereka sendiri ketika aku bilang aku tidak akan lulus tahun ini, aku ingin berteriak bahwa aku berbohong pada mereka. aku tidak bisa lulus karena aku tidak pernah masuk kelas karena terlalu sibuk untuk mengerjakan skripsiku. Itulah mengapa aku harus mengulangnya tahun depan. Aku benci ketika mama mulai menangis dan menyalakan dirinya sendiri, aku benci melihat mamaku menangis. Itulah aku memilih untuk kuliah di jogja. Dan lagi-lagi alasan sebenarnya aku memilih kuliah di jogja pun tidak pernah terucap di hadapan orang tuaku. Sekarang aku mulai bertanya ‘ada gak sih yang kamu lakukan dengan benar sekali saja? Kok kayaknya salah semua.’.

Ketika orang lain berkata mereka mengenalku dengan baik, aku meragukan mereka semua, karena bahkan aku tidak tahu tentang diriku sendiri. Aku tidak pernah tahu mau apa aku hari ini, mau makan apa aku hari ini. Kalau untuk ‘hari ini’ saja aku punya banyak pertanyaan yang tidak bisa kujawab, mana mungkin pula aku punya jawaban untuk pertanyaan ‘nanti’. Suara di kepalaku selalu bertengkar sendiri ketika pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan. Kadang aku tidak bisa mengkontrol mereka untuk berhenti berbicara. Apa aku mulai gila? Apa aku sesakit itu? Kenapa tidak ada orang yang benar-benar menyelematkanku. I need somebody to help me. Please. 

0 件のコメント:

コメントを投稿